Luka Kolektif yang Membuka Kesadaran
Ada momen-momen dalam sejarah bangsa yang menjadi titik balik kesadaran publik. Bukan sekadar peristiwa tragis, melainkan dentuman keras yang mengguncang hati nurani rakyat, menyingkapkan realitas pahit yang selama ini hanya berputar dalam wacana intelektual. Kematian tragis Affan Kurniawan—seorang anak muda, tulang punggung keluarga, pengemudi ojek daring yang hanya berusaha menjemput rezeki halal—menjadi detonator bagi akumulasi rasa marah, kecewa, dan frustasi rakyat terhadap wajah negara yang kian kehilangan nuraninya.
Selama bertahun-tahun, kita sering mendengar narasi-narasi menggugah dari tokoh kritis seperti Rocky Gerung, Refly Harun, Said Didu, dan banyak intelektual lainnya. Kata-kata mereka membelah kesadaran, membangkitkan logika kritis, dan menelanjangi kepalsuan kekuasaan. Namun, mengapa baru ketika Affan tergeletak tak bernyawa di jalan raya, dilindas roda kekuasaan yang buta, bangsa ini benar-benar tersentak? Mengapa justru sebuah tragedi yang membuka tabir, bukan argumen cerdas atau analisis mendalam?
Jawabannya sederhana sekaligus getir: karena penderitaan itu kini benar-benar menubuh, menyatu dengan realitas rakyat kecil. Affan bukan elit, bukan akademisi, bukan tokoh. Ia cerminan mayoritas kita—anak muda yang berjuang untuk keluarga, untuk hidup. Kematian Affan adalah kematian simbolik bagi harapan rakyat, sekaligus pemantik bara api kemarahan yang selama ini dipendam.
Negara yang Sibuk Menciptakan Masalah Sendiri
Aneh memang, negeri ini. Masalah yang sejatinya tidak pernah ada, justru diciptakan oleh negara. Lalu dihebohkan lewat media, membuat rakyat resah, dan kemudian diselesaikan seolah-olah pemimpinnya berhasil melakukan prestasi besar.
Ambil contoh polemik gas melon 3 kg yang masih lekat dalam ingatan kita. Awalnya tidak ada masalah. Rakyat terbiasa membeli gas subsidi di warung-warung kecil. Namun, tiba-tiba Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, mengeluarkan larangan pedagang eceran menjual gas melon. Media riuh, rakyat panik, harga melonjak, antrian mengular. Lalu, setelah beberapa pekan penuh keresahan, aturan itu dilonggarkan kembali. Pemimpin negeri tampil di panggung, seakan-akan mereka pahlawan yang menyelamatkan rakyat dari krisis. Ironis—ini persis seperti pepatah lama: “Menciptakan masalah, menghebohkan, lalu menyelesaikan sendiri.”
Apakah ini bukan tanda bahwa negara lebih sibuk dengan sandiwara politik ketimbang menjaga kedaulatan dan keadilan?
Teori Negara Gagal: Sebuah Cermin dari Robert I. Rotberg
Robert I. Rotberg, seorang pakar politik internasional, pernah memperkenalkan konsep failed state atau negara gagal. Menurutnya, suatu negara dikategorikan gagal apabila tidak mampu menjalankan fungsi dasarnya: menjaga keamanan, melindungi rakyat, menjamin keadilan, dan mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Jika kita menilik Indonesia hari ini, tidakkah tanda-tanda itu mulai tampak?
- Keamanan: Aparat negara yang seharusnya melindungi rakyat, justru menjadi ancaman. Kematian Affan adalah bukti bahwa nyawa rakyat kecil bisa hilang begitu saja di bawah roda institusi yang seharusnya menjadi pelindung.
- Kedaulatan wilayah: Laut dijual, tanah dirampas, hutan dikonversi, semua atas nama investasi. Rakyat hanya menjadi penonton ketika sumber daya yang mestinya milik bersama jatuh ke tangan segelintir elit dan korporasi.
- Keadilan: Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kasus-kasus besar yang merugikan negara bermiliar-miliar rupiah lenyap di udara, sementara rakyat kecil yang mencuri buah sawit atau sekadar bertahan hidup diganjar hukuman penjara.
Rotberg menulis, negara gagal bukan semata karena miskin, melainkan karena elit politiknya gagal menjalankan fungsi dasar negara. Dan hari ini, Indonesia seperti sedang berjalan di tepi jurang itu.
Akumulasi Kekecewaan Rakyat
Momentum Affan menjadi puncak gunung es. Sebelumnya, rakyat sudah dicekik oleh berbagai kebijakan yang tidak berpihak. Naiknya harga kebutuhan pokok, privatisasi sumber daya alam, kebijakan yang membebani rakyat kecil, dan korupsi yang tak pernah berhenti.
Bayangkan, rakyat sudah lelah mendengar berita pejabat yang berfoya-foya dengan uang negara, sementara mereka sendiri harus antre gas melon, berebut minyak goreng, atau mencari-cari uang receh untuk membayar sekolah anak. Kematian Affan menjadi simbol: bahwa roda kekuasaan yang bengis ini bisa melindas siapa saja, kapan saja.
Analogi Bangsa yang Kehilangan Arah
Bangsa ini ibarat kapal besar yang berlayar tanpa nakhoda yang peduli. Kompasnya rusak, layarnya compang-camping, awak kapalnya sibuk memperkaya diri, sementara penumpang di geladak hanya bisa pasrah menunggu kapal karam.
Setiap kali badai datang, bukannya memperbaiki layar, para pemimpin justru sibuk berpura-pura menenangkan penumpang dengan pidato manis. Mereka membuat sandiwara, seolah badai bisa hilang hanya dengan kata-kata. Tetapi, realitas berkata lain. Ombak kian tinggi, kapal kian rapuh, dan penumpang mulai sadar: bila mereka tidak ikut mengambil alih, kapal ini akan benar-benar tenggelam.
Dari Luka Menjadi Gelora
Pertanyaan pentingnya: mengapa baru sekarang rakyat bergerak? Mengapa tidak sejak lama, ketika Rocky Gerung berkata “negara ini dikuasai oligarki”, atau ketika Refly Harun menyoroti kebobrokan hukum, atau ketika Said Didu menyingkap arogansi elit?
Karena suara intelektual sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari rakyat kecil. Tetapi Affan adalah kita. Ia anak bangsa biasa, bukan siapa-siapa. Ia cermin dari rakyat yang berjuang di jalanan, yang pulang membawa nafkah untuk keluarganya. Dan ketika seorang “kita” terinjak oleh roda kekuasaan, rasa sakit itu tidak lagi abstrak. Ia menjadi luka nyata yang menembus hati.
Momentum Affan harus menjadi gelombang baru kesadaran. Gelombang yang bukan hanya marah, tetapi juga menuntut perubahan. Rakyat tidak boleh lagi diam, tidak boleh lagi hanya menjadi penonton. Luka Affan adalah luka kita semua, dan darahnya menuntut kita untuk tidak lagi pasrah.
Dari Rakyat untuk Rakyat
Tragedi ini harus menjadi bahan edukasi politik. Bahwa demokrasi sejati tidak berhenti pada mencoblos lima menit di bilik suara. Demokrasi adalah kesadaran kolektif, adalah partisipasi rakyat untuk terus mengawasi, mengkritik, dan menuntut tanggung jawab dari penguasa.
Rakyat harus belajar, bahwa ketika negara gagal menjalankan fungsi dasarnya, maka rakyatlah yang harus mengambil alih kendali. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kesadaran politik, solidaritas, dan aksi kolektif.
Sejarah membuktikan: bangsa ini pernah bangkit melawan ketidakadilan. Dari Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi 1998. Setiap kali rakyat benar-benar bersatu, kekuasaan yang paling bengis pun bisa runtuh.
Epilog: Dari Affan untuk Indonesia
Tragedi Affan adalah duka. Tetapi ia juga adalah tanda. Tanda bahwa bangsa ini masih punya nurani, masih bisa marah, masih bisa bersatu. Affan mengajarkan kita bahwa kesadaran kadang lahir dari luka yang paling dalam.
Kini, pilihan ada di tangan kita: apakah kita hanya akan menangis sejenak, lalu melupakan? Ataukah kita akan menjadikan momentum ini sebagai bahan bakar untuk perubahan besar?
Indonesia tidak boleh menjadi negara gagal. Tetapi untuk itu, rakyat tidak boleh lagi diam. Luka Affan harus kita rawat menjadi gelora. Gelora untuk melawan ketidakadilan, untuk merebut kembali kedaulatan, untuk menegakkan kembali martabat bangsa.
Karena pada akhirnya, sebuah negara bukan ditentukan oleh elit di atas, melainkan oleh rakyat yang berani berkata: cukup sudah!
